Pencarian
Bahasa Indonesia
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
  • English
  • 正體中文
  • 简体中文
  • Deutsch
  • Español
  • Français
  • Magyar
  • 日本語
  • 한국어
  • Монгол хэл
  • Âu Lạc
  • български
  • Bahasa Melayu
  • فارسی
  • Português
  • Română
  • Bahasa Indonesia
  • ไทย
  • العربية
  • Čeština
  • ਪੰਜਾਬੀ
  • Русский
  • తెలుగు లిపి
  • हिन्दी
  • Polski
  • Italiano
  • Wikang Tagalog
  • Українська Мова
  • Lainnya
Judul
Naskah
Berikutnya

Tentang Masa Muda dan Cinta Tanah Air dan Semua Makhluk: Pilihan dari ‘Love of Centuries’ oleh Maha Guru Ching Hai (vegan), Bagian 1 dari 2

2026-02-04
Details
Unduh Docx
Baca Lebih Lajut
"Love of Centuries" adalah kumpulan puisi yang disusun oleh Maha Guru Ching Hai yang menyampaikan cinta dan resonansi jiwa yang bersimpati dengan kehidupan manusia dan nasib semua penghuni Bumi yang rendah hati dan rapuh. Di tengah arus kehidupan tak pasti ini, Maha Guru Ching Hai rasakan keprihatinan mendalam terhadap penderitaan manusia. Puisi-puisinya juga berisi doa-doa tulus agar umat manusia segera terbangun menuju Jati Diri Sejati, menuju gaya hidup yang penuh kebajikan dan mulia, serta menghadapi kenyataan, sehingga mengubah planet kita menjadi Surga di Bumi, tempat manusia dan semua penghuninya dapat hidup dalam damai dan harmoni.

Hari ini, merupakan suatu kehormatan untuk mempersembahkan pilihan puisi dari “Bagian 1: Masa Muda dan Cinta Tanah Air” dari buku “Love of Centuries,” karya Maha Guru Ching Hai (vegan), yang merinci keindahan alam dan penghargaan terhadap teman-teman baik, serta penderitaan dan kekejaman perang.

Bagian 1: Masa Muda dan Cinta Tanah Air

Rumahku (Nhà Tôi) “Rumah kecilku yang nyaman bertengger di lereng bukit Angin sepoi sejuk dan awan lembut menyelimuti langit. Bunga harum dan rumput hijau begitu segar mengharumkan udara. Pohon-pohon pinus berdengung mempesona mengikuti tarian dewi bulan yang cantik. Kupu-kupu beterbangan di taman yang harum Bunga-bunga hiasi ranting lembut Merah muda, kuning, merah tua, ungu, jingga Oh, begitu harum semerbak, sampai ke Surga! Bulan bersinar terang di puncak hijau, Bawa nyanyian kedamaian di udara, Melodi emas naik bersama angin Ke langit jernih, sangat menenangkan. Jalan setapak di hutan, akrab seperti pelukan Selimuti langkah2 mungilmu, Angkat hari-hari penuh mimpi. Di kejauhan, deburan ombak bergema dalam puisi Bernyanyi bersamaku di malam fantasi ini. Di musim semi, bunga liar menyelimuti gunung. Di musim panas, jangkrik bernyanyi dengan merdu. Di musim gugur, dedaunan berwarna kuning cerah menghiasi jendela. Di musim dingin, nyala api bernyanyi riang di perapian yang hangat. Di keempat musim, bunga-bunga bermekaran di hatiku. Di mana-mana awan mendekat untuk menyapa. Sahabat yang penuh kasih membuat hati semakin sayang. Hewan dan burung berbaur seperti kenalan dekat! Keluarkan kecapi berbentuk bulan, Bunyikan akord musik nan merdu, Jiwa melambung dng nada2 cinta, Hati yang gembira mengikuti irama musik. Tra la la fa la Fa la la tra la Tra la la fa la Fa la la tra la.”

Musim Panas Penuh Nostalgia (Hạ Nhớ) “Ingatkah kau satu awal musim panas Pohon poinciana megah penuhi langit bagaikan denyut nadi masa muda Berjalan2 bersama teman sekelas di halaman sekolah Berlama-lama di momen perpisahan, sayangnya! Separuh terasa bahagia, separuh ragu berpisah Sekuntum bunga merah muda hiasi rambut satu sama lain ungkapan kasih sayang kami! Setelah jejak debu kepergian, seratus hari yang panjang menyusul. Jangkrik bersuara sedih seperti perpisahan tulus kita. Kau berangkat menuju ladang subur dan perairan biru kehijauan Tempat aliran sungai dan danau bergemuruh menyambut kenalan Di atas feri, aku menyeberangi sungai besar Kembali ke desa kecil tempat dimana ibu dan singkong berada. Kapal sang kakak berlayar melintasi samudra biru dan pasir putih. Pohon-pohon willow menjalin nyanyian merdu yang lembut. Mobil sang adik memasuki dataran tinggi, di mana awan pegunungan menaungi senyum nan mempesona... Aku tetap di sini, di kota yang berangin dan berdebu ini, menghitung bunga-bunga yang layu sambil menunggu sinar matahari musim panas memudar. Menunggu seratus hari, menunggu lagi untuk sebuah pelukan hangat, menunggu untuk berjalan-jalan di bawah teras sekolah yang teduh. Jangan lupakan, sayangku, hari-hari bahagia kita. Teman baik, guru terhormat, dan kerabat yang kita sayangi. Angin keemasan menerbangkan bunga poinciana merah di sekeliling dinding Dan di hatiku, hari dan bulan berlalu dng tenang... Kerinduan yang begitu dalam seperti halaman sekolah yang sunyi, Seratus hari kerinduan bagaikan seabad yang berlalu tanpa suara!”

Pada Suatu Hari (Một Ngày) “Suatu hari saat libur sekolah, Bersama ayah aku pergi kunjungi desa asal kami. Bus tua yang biasa kami naiki itu Melaju di sepanjang tanggul. Beras harum di kedua sisinya, Ombak keemasan di sinar mentari kemerahan. Sebuah rumah di sini, atap genteng merah di sana. Buah jambu dan mangga memenuhi halaman. Seekor anjing bertotol merayap mengikuti bus, Ekor mengibas di angin musim panas Debu merah mengepul jauh di luar jalan setapak. Sekumpulan bambu tampak kabur di ladang yang jauh... Sekawanan kerbau tua tampak kebingungan menatap ke arah jalan. Sekelompok burung bangau meluncur anggun di atas ladang luas dan tak berujung. Sepasang lembu cokelat berusaha sekuat tenaga Tarik tumpukan jerami kuning Seret gerobak reyot sangat berat, Perlahan membawa beban waktu. Melewati punggung bukit sebuah gunung keperakan, Angin kencang membawa aroma yang harum! Ratusan bunga alpine bertebaran, anggrek merah muda dan myrtle ungu. Lalu kami menyeberangi dermaga. Ombak yang riang beriak ke pantai. Bunga lili air dengan lembut membelai dayung. Eceng gondok mengapung di sana-sini... Setiap kali bus berhenti, para pedagang ramah berkerumun Menawarkan pisang segar, jeruk mandarin manis, Dan ambarella renyah yang diasamkan dengan akar manis! Donat goreng dan kue ketan, Jagung rebus dan kacang panggang, Jus kelapa dan tebu, begitu harumnya musim-musim di desaku! Beberapa pekerja bertubuh kekar Bawa barang di pundak mereka. Para pelancong bergegas sana sini Ramai seperti di hari Tahun Baru. Bus melaju dengan stabil para penumpang bercakap-cakap, dengan keras dan gembira Tiba-tiba langit pecah dan Bumi berguncang. Semua orang saling bertumpuk! Bus meledak jadi berkeping-keping Sang sopir, kepalanya terlepas. Satu penumpang tubuh hancur Yang lain kaki terputus di jembatan! Seorang wanita yang mengandung Dengan nafas terengah-engah di genangan darah merah. Dua balita tak berdosa Tenggelam hilang di sungai dalam! Seorang wanita tua penuh uban Di tangannya masih ada pot sirih Namun jiwanya telah lenyap. Entah pergi ke mana?!... Bersama tiga penyintas lainnya, Ayahku memegang lukanya. Aliran darah perlahan menetes Saat dia dengan lemah menyeret dirinya di sepanjang jalan!...”
Tonton Lebih Banyak
Video Terbaru
Antara Guru dan Murid
2026-02-05
519 Tampilan
37:52
Berita Patut Disimak
2026-02-04
1 Tampilan
Sains dan Spiritualitas
2026-02-04
1 Tampilan
Antara Guru dan Murid
2026-02-04
671 Tampilan
Bagikan
Bagikan ke
Lampirkan
Mulai pada
Unduh
Mobile
Mobile
iPhone
Android
Tonton di peramban seluler
GO
GO
Aplikasi
Pindai kode QR, atau pilih sistem telepon yang tepat untuk mengunduh
iPhone
Android
Prompt
OK
Unduh